rajabugil|cewek bugil|gadis bugil

situs tentang kebugilan dan dijamin disini tersedia semua tentang bugil,karena kami adalah raja bugil sejati

Your Ad Here

Archive for the ‘17tahun.us’


Published March 4th, 2008

(CD) Anieku sayang Anieku hilang

Cerita 17tahun,3gp dan foto bugil terbaru hanya ada di www.17tahun.us

Pengalaman pertamaku inilah yang membawaku kadang-kadang ingin menikmati kembali, tapi hingga kini aku belum menemukan pengganti Anieku sayang, Anieku yang hilang.

Pada waktu itu kami menempati kontakan bersama adikku yang sedang kuliah di kota S. Aku sendiri sudah bekerja apa adanya sambil kuliah di perguruan tinggi swasta pada sore harinya. Kami mempunyai tetangga, yang biasa dipanggil Bu Anie, namun atas kesepakatan bersama, aku memanggil Bu Anie dengan sebutan Mbak, karena dia lebih muda, dan dia memanggilku Mas, tapi kalau didepan banyak orang aku tetap memanggilnya Bu!, dan dia memanggilku Om Feby, menirukan panggilan anak-anak. Mbak Anie orangnya masih muda dan cantik, walaupun sudah mempunyai seorang anak. Waktu itu anaknya ikut di rumah neneknya sehingga Mbak Anie hanya tinggal berdua dengan suaminya yang sering dinas di luar kota.

Suatu saat Mbak Anie memintaku mengajari komputer karena alasan dia sedang ikut kursus untuk bekal bekerja (Mbak Anie sedang melamar di Perusahaan Swasta) dan sebentar lagi ada ujian komputer. Aku menyanggupinya tapi hanya pada saat aku tidak ada kegiatan kuliah.

Hari pertama Mbak Anie belajar komputer tidak ada yang perlu diceritakan, namun pada hari-hari berikutnya terjadilah cerita-cerita erotis ini. Saat itu Mbak Anie sedang mencoba belajar Excel, aku duduk di kursi tamu yang jaraknya kira-kira 3 meter dari jarak meja komputer.
“Mbak…, kapan ujiannya”, tanyaku.
“Besok!, Mas!, sini dong..
“Ada apa Mbak”, sahutku.
“Ini lho, cara ngasih blok ini gimana toch?
“Ochh…, itu toch, gini klik mouse kiri tekan terus dan geser sampai cell yang dikehendaki kemudian lepaskan”, begitu kataku sambil memberikan contoh.

Selanjutnya Mbak Anie segera mencoba dan berkali-kali gagal. Aku membimbing dengan memegang tangan Mbak Anie, tangan Mbak Anie memegang mouse sementara tanganku di atas tangannya. Tanpa terasa perutku menempel di bahu Mbak Anie. Aku lihat tidak ada perubahan apapun di wajah Mbak Anie dan akupun pura-pura tidak tahu. Agar lebih leluasa aku ambil kursi dan duduk di sebelahnya. Sambil mengajar, kedua tanganku ikut main, tangan kanan mainkan mouse dan tangan kiri memegang pantat Mbak Anie. Melihat tidak ada reaksi dari Mbak Anie, aku mulai berani lebih jauh, tanganku mulai meraba pinggangnya. Ia diam saja. Sambil meremas-remas pinggangnya, aku mendekatkan hidungku ke tengkuknya.

Sampai akhirnya hidungku menempel di belakang telinga kanannya. Sementara tanganku mulai merayap naik dari pinggangnya. Jari-jemariku menyusupkan ke dalam celah di bawah kemeja pendeknya, memberikan kehangatan pada pinggang dan perutnya yang langsing dan kencang, terus perlahan-lahan merayap ke atas. Mbak Aniek menarik nafas dalam-dalam hingga kedua bukit di dadanya makin membusung dan memenuhi kemeja ketatnya pada saat itu pula, tangan kananku tiba di bukit halus di dada kanannya, mengusap, memijit, dan meremas pelan, membuat nafas Mbak Anie kian memburu, ia memutar wajahnya ke kanan.

“Uhh…n Mass jangan!”, desahnya.
“Kenapa Mbak, mumpung sepi, nggak ada yang lihat”.
“Jangan ach, saru…, aku pulang dulu yach”, kata Mbak Anie sambil membereskan buku excel yang dibawanya.
“Mbak, boleh nggak, kalau aku minta punyanya Mbak Anie?”.
“Minta apa…”, tanyanya penasaran.
“Aku ingin merasakan punya Mbak Anie, kalau boleh Mbak ke sini hari Rabu, kira-kira jam 10.00 pagi, Kutunggu”.
Aku sengaja memilih jam tersebut, karena saat-saat seperti itu di lingkungan kami relatif sepi, karena ditinggal sekolah anak-anak, sementara ibu-ibu sibuk di dapur. Tak ada jawaban dari bibirnya yang aduhai, maka kuulangi lagi.
“Bagaimana Mbak?”.
“Ach…, Aku pulang dulu yach”, hanya itu jawaban darinya.

Hari Rabu yang kutunggu datang juga, aku minta ijin pada boss seolah-olah ada keperluan keluarga. Hatiku rasanya berdebar-debar menunggu kedatangan Mbak Anie, ada rasa was-was kalau ternyata yang ditunggu-tunggu ternyata tidak datang. Berkali-kali aku lihat keluar, dia belum juga keluar dari rumahnya. Kulihat lagi…, uch dia keluar, hatiku berdebar, jantungku berdetak lebih cepat, semakin dekat jarak kami rasanya detak jantung ini makin cepat pula.

“Masuk Mbak”, bisikku mempersilakan.
“Mass, aaku geemetaar”.
“aakuuu juga”, sambil kutarik tangan Mbak Anie ke kamarku.
“Mass”.
Tiba-tiba kata-katanya terhenti dan nafasnya tertahan, saat kupeluk dan kuciumi lehernya yang jenjang itu. Dan selang beberapa detik kamipun tenggelam dalam ciuman yang sangat bernafsu itu beberapa menit. Dan tangankupun mulai menggerayangi seluruh tubuhnya. Sambil berdiri kami berdua masih saling melumat dan tangankupun mulai menggerayangi dari leher, ke bahu dan pada akhirnya bertumpu di dua gunung kembar milik Mbak Anie.

Kini jari-jariku telah menemukan puting kecil di puncak bukit kenyal di dada kanannya dan mulai mengusap-usapnya. Ibu jariku mengusap puting dadanya yang kanan, sementara jari tengah aku melakukan hal yang serupa di dadanya yang kiri. Tangan kiriku membuka kancing dan ritsluiting celana kulotnya, menyusup ke dalam, menemukan rambut-rambut ikal. Mbak Anie memejamkan matanya dan menahan nafas, ekspresinya menunjukkan rasa geli dan birahi. Secara refleks, tangannya membuka kancing-kancing kemejanya, hingga dua bukit yang dari tadi berdesakan dalam ruang sempit itu terbebas. Indah sekali, aku dapat melihat bahwa ibu jari dan jari tengah tangan kananku kini sedang memijit-mijit dua buah puting yang tegang, berwarna coklat muda.]

Kemejanya tersingkap di sebelah kanan, menunjukkan pundak yang sangat halus dan indah, aku langsung mengoleskan lidahku di situ berkali-kali. Tangan kiriku terus menggali ke dalam rambut-rambut ikat itu hingga celana Mbak Anie melorot sedikit demi sedikit dan akhirnya jatuh di bawah kakinya. Jari tengah tangan kiriku pun langsung menyentuh sesuatu yang hangat dan lembab, mengusapnya, menjentik-jentikkannya. Membuat tubuh Mbak Anie yang cukup jangkung itu bergetar, sulit berdiri tegak, kakinya goyah, dadanya naik turun mengikuti nafasnya yang terengah, keringat membasahi keningnya, dan sesuatu mulai membasahi jari tangan kiriku di tengah selangkangannya, berdirinya semakin goyah, tangan tangan dan mulutku makin giat bekerja, tungkai indahnya makin gemetar.

“Ohh…, Massss.., ohh…, aku nggak tahan geli”, rintihnya sambil terengah.
Aku segera menelentangkan tubuhnya di atas ranjang. Kuulangi menghisap putingnya bergantian. Tangan kananku menggosok-gosok vaginanya. Kuciumi, kujilati dan kuhisap-hisap semua bagian yang menurut instingku bisa membangkitkan gairahnya. Bibir, lidah, telinga, kuping leher, dada, perut, pusar, paha, vagina, betis sampai ke jari dan telapak kakinya. Tubuh Mbak Anie bergelinjangan tak karuan dadanya naik-turun kelojotan. Mulutku naik lagi ke atas menyusuri betis dan paha hingga akhirnya berhenti di vaginanya. Dengan kedua tanganku kusibak pelan bulu vaginanya. Kulihat belahan vaginanya yang memerah berkilat dan bagian dalamnya ada yang berdenyut-denyut. Kuciumi dengan lembut, bau vaginanya membuat sensasi yang aneh. Dengan hidung kugesek-gesek belahan vagina Mbak Anie sambil menikmati aroma bahunya. Erangan dan gelinjangan tubuhnya terlihat seperti pemandangan yang indah menggairahkan.

“aahhk…, eeekhh…, nikmat sekali Mass, Teruuuss”, rintih Mbak Anie.
Kujulurkan lidahku, kujilat sedikit vaginanya, ada rasa asin. Lalu dari bawah sampai atas kujulurkan lidahku menjilati belahan vaginanya. Begitu seterusnya naik turun sambil melihat reaksi Mbak Anie.
“Akkhh…, akkkhh…, akkkhh…, ngghh”, Mbak Anie terus merintih nikmat, tangannya mencari tangan kananku, meremas-remas jariku lalu membawanya ke payudaranya. Aku tahu dia ingin yang meremas payudaranya adalah tanganku. Begitu kulakukan terus, tangan kananku meremas payudaranya, mulutku menjilati dan menghisap-hisap, menyedot vaginanya, sementara tangan kiriku menyentik-nyentik clitorisnya. Diapun bergelinjang-gelinjang kenikmatan.”Masss aduuh…, enaak sekalii”, erang Mbak Anie.
“Nggghh…, nggghh…”, Aku hanya bisa mendesah, kakinya yang tadinya belum terbuka lebar, tanpa dia sadari dia telah merenggangkan kedua pahanya sambil kakinya ditekuk. Maka semakin lebar kemaluannya terbuka aku semakin leluasa memainkan vaginanya.

Setelah menyedot bibir vagina milik Mbak Anie, lalu aku mulai menjulurkan lidahku ke dalam vaginanya yang mulai basah itu. Kujilati clitoris milik Mbak Anie yang merah itu, terkadang lidahku kujulurkan masuk ke dalam lubang vaginanya. Diapun mendesah terus menerus, “aaccch, oooccchh, aaccchh, oooccchh”. Mendengar desahan Mbak Anie aku semakin beringas menjilatinya hingga vaginanya basah.
“Masss…, nggghh..”, Mbak Anie mendesah sambil tangannya menggapai mencari-cari penisku.

Aku bangkit dan kuletakkan penisku di lembah diantara dua bukit yang kenyal itu, lalu kugesek-gesekkan penisku, sementara Mbak Anie menggeliat-liat sambil tangannya ikut mengusap-usap kepala penisku.
“Masss…, nggghh..”, desah Mbak Anie.
Tangannya menarik penisku, sementara lidahnya menjilat-jilat bibirnya yang sensual. Kusorongkan penisku ke bibir Mbak Anie, Dia mulai mengelus-elus, menjilati dari kantung yang berisikan dua biji pelir hingga sampai pada kepala penisku. Setelah puas dia menjilati lalu dia memasukan penisku ke mulutnya, menghisap dan mengocok-ngocok dengan mulutnya seirama dengan desahan Mbak Anie.

Lama sekali dia mempermaikan penisku hingga aku secara tidak sadar menggeliat-geliat sambil mendesah, “Ooohh, ooohh, yaacch, yaacch”.
Aku sudah tidak tahan, penisku yang sedang di kulum-kulum di mulut Mbak Anie, kucabut. Aku mengangkat kedua tungkainya, meletakkannya di bahuku, dan pelahan-lahan dengan hati-hati kupegang penisku dan kugesek-gesekkan di belahan bibir vaginanya beberapa kali, kemudian kutekan ke dalam dan…, “Bleeess”, penisku memasuki vaginanya dan segera kusodokkan dalam-dalam dengan kencang.
“Aduuhh…”, Mbak Anie menjerit pelan.
“Sakit Mbak..”, tanyaku dan Mbak Anie kulihat hanya menggelengkan kepalanya sedikit dan ketika dia menciumi di sekitar telingaku kudengar dia malah berbisik, “enaak…, Maas”.

Kuciumi wajahnya dan sesekali kuhisap bibirnya sambil kumulai menggerakkan pantatku naik turun pelan-pelan, dan makin lama semakin cepat. Tangan Mbak Anie mencengkeram dan menekan pantatku. Wajahnya tampak memelas, matanya terkatup rapat, bibir tipisnya terbuka, namun giginya terkatup, keringat membasahi sekujur tubuhnya yang kini bergerak terkocok dalam kecepatan tinggi. Aku merasakan jepitan vaginanya sungguh luar biasa. Begitu lembab, lengket, licin, namun ketat mencengkeram mengurut-ngurut kejantananku. Ia pun merasakan nikmat yang luar biasa, vaginanya terjejali dengan benda yang keras dan hangat dengan ukuran yang tepat, menggesek dinding liang vaginanya, tiap gesekan makin membuatnya melayang-layang.

Aku menurunkan kaki kanannya dari bahu kiriku, dan memutar tubuhnya ke kiri, sehingga posisi kami jadi menyilang, penisku kini menyentuh bagian yang lebih dalam dari vaginanya. Mbak Anie kian histeris, menggeliat-geliat, punggungnya terangkat-angkat dari kasur, matanya terpejam makin rapat, dan mulutnya mendesis, mengerang, dan mengaduh tidak menentu. Tangan kanannya kini memegangi tanganku yang sedang mencengkeram pinggulnya. Aku membungkukkan badan dan mulutku menangkap puting kanan Mbak Anie, mengolesinya dengan lidahku, menghisap-hisapnya, namun puting itu tidak dapat menjadi lebih tegang lagi karena sudah begitu tegang. Tubuh kami terus saling berhempasan, penisku terasa menyodok-nyodok ujung liang vaginanya. Sampai tiba-tiba kedua tangannya mencengkeram sprei, wajahnya meringis, dan tubuhnya meregang sampai punggungnya terangkat tinggi dari ranjang, “Uggghh…, Masssh…, ohh”, rintihnya.

Beberapa detik tubuhnya meregang seperti itu, otot-otot vaginanya terasa kuat sekali menggenggam penisku, lalu tiba-tiba tubuh langsingnya terkulai lunglai, seperti tak berenergi.
“Mbak Anie, bisa tahan sebentar saja?”, tanyaku.
Ia mengangguk lemah sambil tetap lunglai seperti orang mau pingsan. Aku segera dengan cepat mengocokkan penisku, kutekankan dalam-dalam, dan kutarik dengan cepat, begitu terus. Hingga ekspresi Mbak Anie menunjukkan rasa ngilu kesakitan, namun ia diam saja, membiarkanku mencapai klimaks. Dan akhirnya, aku merasa sesuatu keluar dari penisku, “crottt…, crottt…, crottt…, ach”.
Aku mencabut penisku dari vagina Mbak Anie dan berbaring di sampingnya. Mendekapnya, memeluknya. Ia pun memelukku dengan mesra, seolah kami merupakan suami istri yang saling memiliki.

Sejak kejadian itu kami jarang ketemu apalagi ngobrol, karena Mbak Anie sudah lulus kursus, apalagi setelah Mbak Anie mulai kerja, sementara aku disibukkan dengan urusan kuliah dan pekerjaan, praktis kami tidak sempat ketemu lagi.

Pengalamanku dengan Mbak Anie membuat aku sering tergoda jika melihat ibu-ibu seksi. Aku ingin pengalamanku terulang, tapi tidak bisa. Mbak Anie sudah pindah menempati rumah sendiri bersama suaminya yang kebetulan belum ada jaringan telepon. Aku ingin nekat ke rumahnya, namun tidak berani, malu kalau tidak ada alasan yang jelas.

Suatu saat tanpa diduga aku bertemu dengan suami Mbak Anie, kami ngobrol dan dengan basa-basi kutanyakan apa sudah ada jaringan telepon di rumahnya, ternyata sudah ada dan di rumahnya juga sudah dipasang. Dengan berbekal nomor yang dikasihkan, aku mencoba menghubungi Mbak Anie, berdebar juga rasanya jantung ini.
“Hallooo”, terdengar suara yang sudah saya kenal baik itu.
“Ini Mbak Anie, yaa?”, tanyaku.
“Och…, Mas Feby toch”, sahut Mbak Anie dengan nadanya yang renyah.
Kami ngobrol lama, aku gunakan kesempatan ini untuk membangkitkan kenangan masa lalu. Aku rayu dia, supaya sewaktu-waktu ada kesempatan kami bisa mengulang masa laku kami. Namun sayang Mbak Anie mengaku sudah insaf dan dulu merupakan kekhilafan yang jangan sampai diulang. Akhirnya aku menyerah, tapi sudah kepalang basah, aku menceritakan terus terang dan minta tolong pada Mbak Anie.

“Mbak, kalau toch Mbak Anie nggak mau lagi, baiklah nggak apa-apa, tapi aku minta tolong…, tolong bantu aku Mbak!
“Apa yang bisa ku bantu Masss!
“Begini Mbak.., terus terang sejak kejadian itu, aku sering melamun dan sering tergoda jika melihat ibu-ibu yang kelihatan seksi, aku akhirnya hanya bisa menahan dan kalau toch terpaksa kuambil sabun dan main sendiri. Mbak tolonglah aku…, jika Mbak punya kenalan yang kebetulan kesepian dan menginginkan kenikmatan, kenalkan padaku yaach, aku ingin memberikan kenikmatan seperti yang pernah aku berikan kepada Mbak Anie”.
“Mas, kok jadi begini…, tapi yach, akan aku usahakan, tapi aku nggak berani menjanjikan lho!

Sampai sekarang Mbak Anie tidak pernah memberi kabar. Aku juga tahu diri mungkin Mbak Anie tidak setuju apa yang akan aku perbuat, sehingga dia tidak pernah memberi kabar apapun. Akhirnya akupun sampai sekarang tidak pernah menghubungi lagi Mbak Anie. Aku menganggap Mbak Anieku hilang, yah Mbak Anieku sayang, Mbak Anieku yang hilang. Namun aku masih tetap mengharap menemukan Mbak Anie yang lain.

Published March 4th, 2008

(IGO) Pegawai counter HP

Cerita 17tahun,3gp dan foto bugil terbaru hanya ada di www.17tahun.us

Published March 4th, 2008

(IGO) Tante Lisa lagi ngangkang

Cerita 17tahun,3gp dan foto bugil terbaru hanya ada di www.17tahun.us


Published March 4th, 2008

(CD) Intan ibu kostku

Cerita 17tahun,3gp dan foto bugil terbaru hanya ada di www.17tahun.us

Nama saya adalah Aldo. Saya merupakan mahasiswa tingkat akhir di
sebuah perguruan tinggi di kota Bogor. Saya memiliki pengalaman yang
tak akan saya lupakan seumur hidup saya. Kejadian itu terjadi pada
waktu saya masih kuliah di tingkat 1 semester ke-2.

Saat itu saya tinggal di sebuah rumah yang oleh pemiliknya disewakan
untuk kost kepada mahasiswa. Saya tinggal bersama 2 orang mahasiswa
lain yang keduanya merupakan kakak kelas saya. Pemilik rumah kos itu
adalah seorang Dosen yang kebetulan sedang studi di Jepang untuk
mendapatkan gelar Doktor. Ia telah tinggal di Jepang kurang lebih 6
bulan dari rencana 3 tahun ia di sana.

Agar rumahnya tetap terawat maka ia menyewakan beberapa kamar kepada
mahasiswa yang kebetulan kuliah di dekat rumah itu. Yang menjadi Ibu
kost-ku adalah istri dari Dosen yang pergi ke Jepang tersebut.
Namanya sebut saja Intan. Aku sering menyebut ia Ibu Intan. Umurnya
kira-kira sekitar 30 tahunan dengan seorang anak umur 4 tahun yang
sekolah di TK nol kecil. Jadi di rumah itu tinggal Ibu Intan dengan
seorang anaknya, seorang pembantu rumah tangga yang biasa kami
panggil Bi Ana, kira-kira berumur 50 tahunan, aku dan kakak kelasku
bernama Kardi dan Jun.

Ibu Intan memiliki tubuh yang lumayan. Aku dan kedua kakak kelasku
sering mengintip dia apabila sedang mandi. Kadang kami juga sering
mencuri-curi pandang ke paha mulusnya apabila kami dan Ibu nonton
tivi bareng. Ibu Intan sering memakai rok apabila dirumah sehingga
kadang-kadang secara tidak sadar sering menyingkapkan paha putihnya
yang mulus. Ibu Intan memiliki tinggi kurang lebih sekitar 165 cm
dengan bodinya yang langsing dan putih mulus serta payudara yang
indah tapi tak terlalu besar kira-kira berukuran 34 B (menurut nomer
dikutangnya yang aku liat di jemuran). Ibu Intan memiliki wajah yang
lumayan imut (mirip anak-anak). Dia sangat baik kepada kami, apabila
dia menagih uang listrik dan uang telepon dia meminta dengan sopan
dan halus sehingga kami merasa betah tinggal di rumahnya.

Pada suatu malam (sekitar bulan maret), kebetulan kedua kakak
kelasku lagi ada tugas lapangan yang membuat mereka mesti tinggal di
sana selama sebulan penuh. Sedangkan anak Bu Intan yang bernama Devi
lagi tinggal bersama kakeknya selama seminggu. Praktis yang tinggal
di rumah itu cuma aku dan Ibu Intan, sedangkan Bi Ana tinggal di
sebuah rumah kecil di halaman belakang yang terpisah dari rumah
utama yang dikost-kan. Malam itu kepalaku sedikit pusing akibat tadi
siang di kampus ada ujian Kalkulus. Soal ujian yang sulit dan penuh
dengan hitungan yang rumit membuat kepalaku sedikit mumet. Untuk
menghilangkan rasa pusing itu, malamnya aku memutar beberapa film
bokep yang kupinjam dari teman kuliahku.
“Lumayan lah, mungkin bisa ngilangin pusingku”, pikirku.
Aku memang biasa nonton bokep di komputerku di kamar kosku apabila
kepala pusing karena kuliah.

Pada saat piringan kedua disetel, tiba-tiba aku dikagetkan oleh
suara pintu kamarku terbuka.
“Hayo Aldo, nonton apaan kamu?” Ibu Intan berkata padaku.
“Astaga, aku lupa menutup pintu kamar” gerutuku dalam hati.
Ibu Intan telah masuk ke kamarku dan memergoki aku sedang nonton
film bokep. Aku jadi salah tingkah sekaligus malu.
“Anu bu, aku cuma..” jawabku terbata-bata.
“Boleh Ibu ikut nonton?” katanya bertanya padaku
“Boleh..” jawabku seakan tak percaya kalo dia akan nonton film bokep
bareng aku.
“Dah lama nih Ibu ga nonton film kaya’ gini. Kamu sering nonton ya?”
katanya menggodaku.
“Ah, gak bu..” jawabku
“Hmm.. bagus juga adegannya” dia berkata sambil memandang adegan
yang berlangsung.

Akhirnya kami sama-sama menonton film bokep tersebut. Kadang-kadang
dia meremas-remas payudaranya sendiri yang membuat kemaluanku
berdiri tegak. Dia memakai daster putih malam itu kontras dengan
kutang dan celana dalam warna hitam. Kadang aku melirik dia dengan
sesekali memperhatikan dia yang sesekali memegang kemaluannya dan
menggoyangkan pinggulnya seperti cewe yang sedang menahan kencing.
Pemandangan itu membuat darahku mendesir dan membuat batang
kejantananku berontak dengan sengit di dalam celana dalamku.
Tiba-tiba dia bertanya, “Do, kamu pernah melakukan seperti yang di
film tadi ga?”
Aku terkejut mendengar kata-kata itu terlontar dari mulutnya.
“Belum” jawabku.
“Ah masa?” tanya dia seakan tak percaya.
“Bener bu, sumpah.. aku masih perjaka kok” jawabku.
“Kalo pacarmu ke kamarmu ngapain aja? ayo ngaku” tanyanya sambil
tersenyum kecil.
“Ah ga ngapa-ngapain kok bu, paling cuma diskusi masalah kuliah”
jawabku.
“Yang bener.. trus kalian ampe buka-bukaan baju ngapain? emang Ibu
ga tau.. ayo ngaku aja, Ibu dah tau kok” tanyanya sambil mencubit
pipiku.

Wajahku jadi merah padam mendengar dia berkata seperti itu, ternyata
ia sering ngintipin aku ama pacarku.
“Iya deh.. aku emang sering bermesraan sama pacarku tapi ga sampai
ML, paling jauh cuma oral dan petting aja” jawabku jujur.
“Ohh..”, katanya seakan tak percaya.
Akhirnya kita terdiam kembali menikmati film bokep. Akhirnya film
itu selesai juga juga.
“Do, kamu bisa mijit ga”, tanyanya.
“Dikit-dikit sih bisa, emang kenapa bu?”
“Ibu agak pegel-pegel dikit nih abis senam aerobik tadi sore. Bi Ana
yang biasa mijetin dah tidur kecapekan kerja seharian, bisa kan?”
“Boleh, sekarang bu?”
“Ya sekarang lah, di kamar Ibu yah.. ayo”.

Aku mengikuti Ibu Intan dari belakang menuju ke kamarnya. Baru
pertama kali ini aku masuk ke kamar Ibu kosku itu. Kamarnya cukup
luas dengan kamar mandi di dalam, kasur pegas lengkap dengan ranjang
model eropa. Di sebelahnya ada meja rias, lemari pakaian dan meja
kerja suaminya. Kamar yang indah.
“Ini minyaknya”, Bu Intan menyerahkan sebotol minyak khusus buat
memijat.
Minyak yang harum, pikirku. Aku emang belum pernah mijat tapi saat
ini aku harus bisa. Ibu Intan kemudian membuka dasternya, hanya
tinggal kutang dan celana dalam hitam yang terbuat dari sutera.
Melihat pemandangan ini aku hanya bisa melongok takjub, tubuhnya
yang putih mulus tepat berdiri di hadapanku.

“Ayo mo mijit ga? Jangan bengong gitu”.
Aku terhentak kaget. Aku lupa kalo saat itu aku mo mijit dia.
Akhirnya dia berbaring telungkup dia atas kasur. Aku mulai melumuri
punggungnya dengan minyak tersebut. Aku mulai memijit dengan lembut.
Kulitnya lembut sekali selembut sutera, kayanya dia sering melakukan
perawatan tubuh, pikirku dalam hati.
“Ahh.. enak juga pijatanmu Do, aku suka.. lembut sekali. ”
Aku memijat dari bahunya sampai mendekati pantat, berulang-ulang
terus.
“Do, tolong buka kutangku. Tali kutangnya ga nyaman, ganggu
pijatannya” katanya menyuruh aku tuk membuka kutangnya.
Aku membuka tali kutangnya dan Ibu Intan kemudian melepas kutangnya.
Sesekali aku memijat sambil menggelitik daerah belakang telinganya.
“Ssshh.. ahh..” dia mendesah apabila daerah belakang telinganya
kugelitik dan apabila lehernya kupijat dengan halus.
“Do, tolong pijat juga kakiku ya..” katanya.

Aku mulai meminyaki kakinya yang panjang dan ramping. Sungguh kaki
yang indah. Putih, bersih, mulus, tanpa cacat dengan sedikit
bulu-bulu halus di betis. Pikiranku mulai omes, aku sedikit
kehilangan konsentrasi ketika memijat bagian kakinya.
“Do, tolong pijat sampai ke pangkal paha ya..” pintanya sambil
memejamkan mata.
Ketika tanganku memijat bagian pangkal pahanya, dia memejamkan mata
sambil mendesah seraya menggigit bibir pertanda dia mulai “panas”
akibat pijatanku. Aku mulai nakal dengan memijat-mijat sambil
sesekali menggelitik daerah-daerah sensitifnya seperti leher dan
pangkal pahanya. Dia mulai menggeliat tak karuan yang membuat
kejantananku berontak dengan keras di celana dalamku.

Tiba-tiba dia berkata, “Do, bisa mijit daerah yang lain ga?”
“Daerah yang mana bu?”
Tiba-tiba dia membalikkan badannya seraya membimbing kedua tanganku
ke atas payudaranya. Posisi badannya sekarang adalah telentang. Dia
hampir telanjang bulat, hanya tinggal segitiga pengamannya saja yang
belum terlepas dari tempatnya. Aku tertegun melihat pemandangan itu.
Payudaranya yang indah membulat menantang seperti sepasang gunung
kembar lengkap dengan puncaknya yang kecoklatan. Aku meremasnya
dengan lebut sambil sesekali melakukan “summit attack” dengan jari
jemariku mempermainkan putingnya. Seperti memutar tombol radio
ketika mencari gelombang.

Ia mulai menggelinjang tak karuan.
“Ahh.. oohh.. sshh”, dia mendesah sambil membenamkan kepalaku menuju
payudaranya.
“Do.. Jilatin payudaraku Do.. cepat..”.
Aku mengabulkan permintaannya dengan memainkan lidahku diatas
putingnya. Lidahku bergerak sangat cepat mempermainkan putingnya
secara bergantian seperti penari samba yang sedang bergoyang di atas
panggung.
“Oohh.. yyess.. uukkhh..” Dia terus mendesah sambil mencengkramkan
tangannya di pundakku.
Dia memeluku dengan erat. Semakin cepat aku meminkan lidahku semakin
keras desahannya. Lidahku mulai naik ke daerah leher dan bergerilya
di sana. Bergerak terus ke belakang telinga sambil tanganku
memainkan putingnya. Dia terus mendesah dan dengan sangat terlatih
membuka baju dan celanaku. Sekarang yang kupakai hanya celana dalam
yang menutupi rudal Scud-ku. Kami mulai berpelukan dan berciuman
dengan ganasnya. Ternyata dia sangat ahli dalam mencium. Bibirnya
yang lembut dan lidah kami yang saling berpagutan membuatku serasa
melayang seperti lalat.

Dia mulai menciumi leherku dan sesekali menggigit kupingku. Aku
semakin rakus dengan menjilatinya dari mulai leher sampai ujung
kaki.
“Aahh..”, aku mendesah ketika tangannya menyusup ke markasku mencari
rudalku, mengenggamnya dan mengocoknya dengan tangannya yang lembut.

Dengan bantuan kakinya dia menarik celana dalamku sehingga celana
dalamku terlepas. Aku telah telanjang bulat. Terlihat seorang
prajurit lengkap dengan topi bajanya berdiri tegak siap untuk
melaksanakan tugas yang diberikan oleh atasannya.
“Oohh.. auhh.. sshh..”, dia terus memainkan prajuritku dengan
tangannya.

Tanganku mulai membuka celana dalamnya yang telah basah oleh cairan
pelumas yang keluar dari dalam lobang vaginanya. Terlihat sebuah
pemandangan yang indah ketiga segitiga pengaman itu terlepas. Sebuah
pemandangan yang sangat indah di daerah selangkangan. Jembutnya yang
rapi terurus dan vaginanya yang berwarna merah muda membuat darahku
mendesir dan kejantananku semakin menegang.
“Oohh.. nikmaatt.. truss..”, dia berkata sambil mendesah ketika
lidahku menggelitik daging kecil di atas lobang vaginanya.
“Oohh.. sshh.. Yess.. truuss..”
Semakin cepat aku memainkan lidahku semakin cepat juga dia mengocok
kontolku. Aku terus mempercepat ritme lidahku, badannya semakin
bergerak tak terkontrol. Tanpa sadar tangannya membenamkan kepalaku
ke selangkangannya, aku hampir tak bisa bernapas. Aku mencium aroma
khas vagina yang harum yang membuat lidahku terus menjilati
klitorisnya.
“Ohh.. Ssshh.. Ukhh”, dia terus mendesah.
“Do.. ahh.. lebih cepat.. ukhh.. aku mo keluar nih..”
“Ahh..”, terdengar lenguhan panjang dari bibirnya yang mungil.
“Aukhh..”, tiba-tiba badannya menegang hebat.

Kedua tangannya menggenggam kepalaku dengan erat dan vaginanya
semakin basah oleh cairan yang keluar. Dia mengalami orgasme
klitoris, yaitu orgasme yang dihasilkan akibat perlakuan pada
kelentitnya.
“Do, nikmat sekali.. Aku tak menyangka kamu pandai bersilat lidah”,
katanya sambil napasnya terengah-engah.
Ketika aku siap untuk menembakkan rudalku, tiba-tiba ia berkata,
“Do, aku punya sebuah permainan untukmu”.
“Permainan apa?” tanyaku.
“Pokoknya kamu ikut aja, permainan yang mengasyikkan. Mau?”
tanyanya.
“Oke..”, jawabku.

Dia mengambil sebuah slayer dan menutup mataku, kemudian menyuruhku
berbaring terlentang dan mengikut kedua tanganku dengan selendang
yang telah ia siapkan. Kedua tanganku dan kakiku diikat ke empat
penjuru ranjang sehingga aku tak bisa bergerak. Yang bisa aku
gerakkan cuma pinggulku dan lidahku. Aku pun tak bisa melihat apa
yang dia lakukan padaku karena mataku tetutup oleh slayer yang dia
ikatkan. Aku seperti seorang tawanan. Aku hanya bisa merasakan saja.
Tiba-tiba aku merasakan lidahnya mulai bergerilya dari mulai ujung
kakiku. Trus bergerak ke pangkal paha.
“Ahh”, aku mendesah kecil.
Lidahnya terus bergerak ke ke atas menuju perutku, terus menjilati
daerah dadaku.
“Oohh.. Ssshh..”, aku mulai mendesah keenakan. Lidahnya terus naik
ke leherku dan mencium bibirku. Kemudian lidahnya mulai turun
kembali.
“Ohh.. yyeess.. uukkhh..”, aku mendesah hebat ketika lidahnya
bermain di daerah antara lubang anus dan biji pelerku.
“Aahh..”, aku terus mendesah ketika dia mulai menjilati batang
kemaluanku dari mulai pangkal sampai kepalanya, terus menerus,
membuat tubuhku berkeringat hebat menahan rasa yang amat sangat
nikmat.

“Panjang juga ya punya kamu”, Ibu Intan berkata padaku seraya
mengulum penisku masuk ke dalam mulutnya.
“Ahh.. eenaakk.. sshh”, aku mendesah ketika batang kejantananku
mulai keluar masuk mulutnya.
Sesekali dia menghisapnya dengan lembut. Dia terus mengulum penisku
dan semakin lama semakin cepat. Dia memang ahli, pikirku. Tidak
seperti kuluman pacarku yang masih minim pengalaman. Ibu Intan
merupakan pengulum yang mahir.
“Aahh.. ahh.. ah.. aahh.. sshh.. teruss”, aku memintanya supaya
mempercepat kulumannya. Ingin rasanya menerkam dia dan menembakkan
rudalku tapi apa daya kedua kaki dan tanganku terikat dengan mataku
tertutup.

Tiba-tiba ada sesuatu di dalam penisku yang ingin mendesk keluar.
“Ahh.. sshh.. Bu, aku mo keluarr”, kataku
Mendengar itu, semakin cepat ritme kulumannya dan membuatku tak
tahan lagi untuk mengeluarkan spermaku.
“Aaahh..”, aku mengerang hebat dan tubuhku mengejang serta gelap
sesaat ketika cairan itu mendesak keluar dan muncat di dalam mulut
Bu Intan.
Aku seperti melayang ke awang-awang, rasanya nikmat sekali ingin aku
teriak enak.
“Enak juga punyamu Do, protein tinggi”, katanya seraya menjiltai
sperma yang tumpah.

Tiba-tiba aku tak merasakan apa-apa. Tak lama kemudian aku mencium
aroma khas vagina di depan hidungku. Ternyata Bu Intan meletakkan
vaginanya tepat di mulutku dan dengan cepat aku mulai memainkan
lidahku.
“Sshh.. truuss.. ahh.. eennaakk..”, ia mendesah ketika lidahku
memainkan kembali daging kecil miliknya. Semakin ia mendesah semakin
aku terangsang.
Tak lama kemudian prajurit kecilku kembali menegang hebat.
“Aahh.. sshh.. Ukkhh.. yess”, ia semakin hebat mendesah membuat
rudalku telah mencapai ereksi yang maksimal akibat desahannya yang
erotis.
Lama kelamaan vaginya semakin basah kuyup oleh cairan yang keluar
akibat terangsang hebat.
“Aku ga tahan lagi Do”, katanya seraya mengangkat vaginanya dari
mulutku.

Dia memindahkan vaginanya dari mulutku dan entah kemana dia
memindahkannya karena mataku tertutup oleh slayer yang dia ikatkan
kepadaku. Tiba-tiba aku merasakan kemaluanku digenggam oleh
tangannya dan dituntun untuk masuk ke dalam sutau lubang hangat
sempit dan basah oleh cairan pelumas. Ahh.. baru pertama kali ini
aku merasakan nikmatnya vagina. Meskipun Ibu Intan bukan perawan
tapi yang kurasakan sempit juga juga vaginanya. Dengan perlahan Ibu
Intan mulai membenamkan kemaluanku ke dalam vaginanya sehingga
seluruh kemaluanku habis ditelan oleh vaginanya. Aku merasakan
nikmat dan geli yang luar biasa ketika kemaluanku masuk ke dalam
vaginanya. Posisiku telentang dengan Bu Intan duduk di atas
kemaluanku persis seperti seorang koboi yang sedang bermain rodeo.

Dengan perlahan tapi pasti, Ibu Intan mulai memainkan pinggulnya
naik turun secara perlahan.
“Aaahh.. uuhh”, desahku ketika Ibu Intan memainkan pinggulnya naik
turun secara perlahan dan sesekali memutarkan pinggulnya. Itu
membuat diriku seperti melayang ke udara. Aku pun mulai
menggoyangkan pantatku naik turun.
“Do.. giiillaa.. enaakk ssekali..”, teriak bu Intan.
Aku tak mampu untuk berkata-kata lagi. Aku hanya bisa mendesah dan
mendesah. Lama kelamaan Ibu Intan mulai mempercepat ritme
goyangannya, naik turun dan sesekali memutarkan pinggulnya.

Tak mau kalah, aku pun mulai mempercepat sodokanku.
“oohh.. yess.. ohh..”, desah Ibu Intan.
“Ahh.. uhh.. goyang terruss buu”, kataku.
“Enaakk.. Doo.. tolong cepetin sodokanmu Do..”, katanya.
Sodokanku semakin cepat dan semakin cepat pula Ibu Intan
menggoyangkan pinggulnya.
“Ohh.. shit.. oohh.. nnikkmmat..”, Ibu Intan berteriak seraya
menjambak rambutku.

Dia mulai membuka slayerku. Aku bisa melihat pemandangan yang
sungguh menakjubkan sekaligus menggairahkan di depanku. Tubuh Ibu
Intan yang bergoyang membuat rambutnya acak-acakan dan seluruh
tubuhnya penuh dengan keringat. Payudaranya yang putih bersih dengan
putingnya yang kecoklatan ikut bergoyang seirama dengan goyangan
pinggulnya yang mengocok kemaluanku. Mukanya yang manis dengan mata
yang sesekali merem melek, mulutnya yang mendesah dan sesekali
mengeram serta wajahnya yang dipenuhi keringat membuat ia keliatan
seksi dan menggairahkan.
“Ahh.. shit.. oh.. god.. ohh.. enak..”, desahnya.
Aku melihat Ibu Intan yang setiap hari terlihat lembut ternyata
memiliki sisi yang sangat menggairahkan dan terlihat haus akan sex.
Ibu Intan pandai memainkan ritme goyangannya, kadang dia melambatkan
goyangan pinggulnya kadang dengan tiba-tiba mempercepatnya. Aku
hanya bisa mengikuti perrmainannya dan aku sangat menikmatinya.

“Aaahh..!”, aku berteriak keenakan ketika aku merasakan diantara
goyangannya yang mengocok kemaluanku, vaginanya seperti menghisap
kemaluanku.
“Mampus kamu Do.. tapi enak kan? Itu namanya “hisapan maut”.. Ibu
mempelajarinya melalui senam Keggel..”, katanya sambil memandangku
dengan liar.
Aku semakin mempercepat sodokanku dan Ibu Intan pun mempercepat
goyangannya naik turun dan berputar secara bergantian sesekali
dilakukannya hisapan maut yang membuat seluruh tulang dalam tubuhku
seperti terlepas dari persendiannya. Ibu Intan mulai menciumi
leherku dan bibirku.

Kami semain “panas” dan lidah kami saling berpagutan sementara
sodokan kemaluanku dan goyang pinggulnya semakin lama semakin cepat.

“Uhh.. ahh.. shh.. ahh..”, aku mendesah.
Ibu Intan semakin ganas menciumiku seraya aku mempercepat
sodokannya. Aku merasakan sesuatu akan keluar mendesak dari penisku.

“Bu Intan.. ahh.. uhh.. shh.. akkuu mauu kkeluarr..”, kataku.
“Ibu juga.. ahh.. tahann.. kita keluarin sama-sama.. sshh ahh..”.
“Aku ga tahan lagi bu..”.

Tiba-tiba Ibu Intan berteriak panjang.
“Aaahh..” sambil memelukku dengan sangat erat.
“Aaahh..”. bersamaan dengannya aku merasakan penisku memuntahkan
cairan hangat di dalam vaginanya.
Kami berciuman dan kurasakan tubuhnya dan tubuhku mengejang hebat
menahan kenikmatan yang amat sangat. Gelap sesaat yang diiringi
kenikmatan yang luar biasa membuat tubuhku seperti melayang jauh ke
awang-awang. Nikmatnya melebihi masturbasi yang sesekali aku
lakukan.

Kami sama-sama terkulai lemas dengan napas yang terengah-engah
seperti dua olahragawan yang telah balap lari. Ibu Intan menatapku
sambil tersenyum manis. Aku hanya terdiam menatap langit-langit.
“Do, kamu nyesel ga ML sama Ibu?”, tanya Ibu Intan kepadaku.
“Nggak bu..”.
“Terus kenapa kamu termenung begitu?”.
“Aku cuma bingung, aku kan mengeluarkan sperma di dalam vagina Ibu,
aku cuma khawatir nanti Ibu hamil gara-gara saya”
“Ha.. ha.. ha.. jadi itu yang kamu khawatirkan?”
“Iya bu. ”
“Tenang aja, Ibu teratur ko minum pil kb. Jadi kamu ga perlu
khawatir?”

Apa yang dikatakannya membuatku tenang. Akhirnya kami berbicara
ngalor ngidul. Dan kami juga bercanda dan tertawa. Kami ngobrol dan
becanda dalam keadaan bugil tanpa busana sehelai benang pun menempel
di tubuh kami.
“Do, kamu lapar ga? Ibu lapar”, katanya.
“Iya bu”
“Ibu masakin kamu nasi goreng spesial buatan Ibu ya?”
“Boleh”, jawabku.

Kami berpakaian kembali. Ibu Intan hanya menggunakan daster putih
tanpa memakai kutang dan celana dalam, sedangkan aku hanya
menggunakan celana pendek saja tanpa menggunakan baju. Aku menunggu
di meja makan sambil nonton MTV dan Ibu Intan di dapur memasak nasi
goreng. Akhirnya nasi goreng pun selesai di masak dan kami makan
bersama-sama di meja makan. Meja makannya cukup besar, terbuat dari
kayu jati dengan motif yang indah. Di sisi lain meja makan terdapat
susu kental manis, teh celup, sebotol madu, tempat sendok dan garpu,
serbet dan alas makan.

Setelah makan selesai, aku dan Ibu Intan membersihkan meja makan
bekas kami makan. Kami mulai bercanda-canda lagi. Tanpa sadar aku
mulai becanda sedikit porno dan darahku mulai berdesir melihat ia
berpakaian daster tanpa menggunakan kutang dan celana dalam. Tampak
samar-samar putingnya menonjol seakan ingin merobek daster yang
dikenakannya. Bayangan hitam di selangkangannya (jembut) merupakan
pemandangan yang indah.
“Ibu cantik dan seksi pake daster itu”, kataku.
“Kamu ngerayu Ibu ya..”
“Bener lho bu, apalagi ga pake kutang dan celana dalem”
“Ah kamu.. mulai nakal ya”, katanya sambil nyubit pipiku.

Prajuritku sedikit demi sedikit mulai kembali berdiri tegak. Ini
akibat dari mataku yang selalu tertuju pada gundukan hitam di balik
daster Ibu Intan.
“Lho.. kok bangun lagi prajurit kecilmu, mo tempur lagi ya”,
katanya.
Aku tidak segera menjawab karena tangan Ibu Intan sudah mulai
menyusup ke dalam celanaku yang emang ga make kolor. Dengan lembut
ia mulai mengocok penisku.
“Ahh..”, aku mendesah kecil, lalu kami mulai berciuman dengan
mesranya.
Tanpa sadar ketika berciuman tangan kami bergerilya dan mulai
melucuti pakaian masing-masing. Kami sudah telanjang bulat dan kami
masih terus berciuman sementara tangan Ibu Intan mengocok penisku
dengan lembutnya. Hmm.. rasanya nikmat sekali. Tidak tau gimana
awalnya tetapi kami sudah berada di atas meja makan, terbaring
sambil berciuman. Ibu Intan dalam posisi telentang dan aku berada di
atasnya.

Aku mulai menciumi lehernya dan terus bergerak ke belakang telinga.
“Aaahh..”, Ibu Intan mendesah ketika lidahku mulai bergerak lincah
dan menjilati kedua puting susunya secara bergantian sementara
tanganku yang lain memainkan klitorisnya.
Vaginanya mulai basah akibat cairan pelumas yang keluar dari lubang
kenikmatannya. Tangannya terus mengocok kontolku.
“Do.. enak.. sshh..”, desahnya sambil memejamkan mata.
Kami mulai berganti posisi, Ibu Intan yang mengarahkannya. Giliranku
telentang dan Ibu Intan berada di atasku dengan posisi terbalik.
Kami melakukan gaya 69. Aku menjilati klitorisnya dengan rakus
seperti orang kelaparan yang bertemu makanan sementara Ibu Intan
menghisap kontolku dengan lembut dan sesekali menjilati kepala
penisku yang membuat merasa seperti tersengat listrik.
“Uhh.. sshh..”, aku mendesah ketika hisapan Ibu Intan senakin kuat.
Semakin cepat lidahku menggelitik klentitnya semakin ganas pula dia
mengulum penisku.

Aku bangkit dan Ibu Intan kuposisikan telentang di atas meja dengan
kaki mengangkang. Terlihat dua buah gunung kembar yang sangat indah
yang membuat darahku berdesir hebat. Sementara di selangkangannya
terdapat bibir merah muda yang merekah lengkap dengan bulu-bulunya
yang membuat rudalku semakin mengeras. Aku segera meraih kaleng susu
kental manis di sampingku dan perlahan-lahan mengoleskannya ke
seluruh tubuh Ibu Intan dari mulai leher sampai dengan ujung kaki.
Kemudian aku mengoleskan madu disekitar puting dan kemaluannya. Aku
mulai menjilatinya mulai dari leher. Ibu Intan hanya bisa pasrah
dengan mata terpejam dan dari mulutnya terdengar desahan kecil.
Lidahku bergerak turun ke arah bahunya, kemudian bergerak menuju
payudaranya.

Tubuh Ibu Intan menggelinjang ketika lidahku menari-nari di atas
puncak gunung kembarnya.
“Do.. aahh.. sshh.. Ibu ga tahan.. masukin Do..”, Ibu Intan meminta
aku segera menusukkan penisku ke dalam vaginanya.
Tapi aku pura-pura tak mendengar. Lidahku mulai bergerilya lagi
menjilati semua susu kental yang menempel di tubuhnya. Lidah mulai
bergerak lagi ke arah perut. Lalu aku mulai menjilati dari ujung
kaki Ibu Intan, naik ke betis terus ke pangkal paha. Ketika lidahku
menjilati cairan madu yang membasahi sekitar kemaluan dan
klitorisnya, Ibu Intan menggelinjang hebat dan tanpa sadar semakin
membenamkan kepalaku ke vaginanya. Semakin ganas aku menjilati madu
yang ada di klitorisnya, semakin tak terkendali juga tubuh Ibu Intan
menggelinjang.

“Sshh.. oughh.. aahh.. pleeaassee.. masukin Do..”, katanya seraya
menghisap jari telunjukku.
Dia mengangkat kakinya dan menyimpannya di atas bahuku sementara aku
berdiri di atas lutut. Perlahan aku mulai memasukkan penisku.
Vaginanya yang sudah basah kuyup dan licin memudahkanku untuk
membenamkan seluruh penisku ke lubang sorga dunia miliknya.
“Aahh.. nnikmmaatt..”, teriaknya sambil menggoyangkan pinggulnya
melingkar.
Aku mulai memainkan sodokanku. Kecepatannya semakin lama semaikn
kutambah begitu pula goyangan pinggul Ibu Intan.
“Ibu.. enaakk.. uhh.. shh..”, desahku sambil memejamkan mata.
“Aahh.. sshh.. mm..”, ia mendesah sambil menghisap jari tanganku.

Suara becek vagina Ibu Intan yang dikocok oleh penisku terdengar
seperti sebuah nyanyian yang merdu. Sesekali terdengar bunyi derak
meja makan tempat kami bercinta. Kami berganti posisi. Ibu Intan
membelakangiku dengan posisi menungging dan aku menusuknya dari
belakang. Tubuh kami semakin basah kuyup oleh keringat. Keringat Ibu
Intan yang bercampur dengan cairan susu kental menimbulkan wangi
yang semerbak. Kami semakin terhanyut ke dalam dunia yang entah
dimana.
“Teerruuss.. cepett.. lebih.. cepett.. aahh..”, Ibu Intan mendesah
sambil memintaku untuk mempercepat sodokanku.
Kami berganti posisi lagi. Aku dalam posisi duduk dan Ibu Intan
duduk dipangkuanku sementara penisku asyik bergulat di dalam lubang
vaginanya.
“Aahh.. sshh.. goyang terruss..”, desahku ketika Ibu Intan mulai
bergoyang dengan ganasnya.

Kami berciuman sementara penisku dikocok oleh lubang vaginanya Ibu
Intan yang sangat hangat sekali. Vagina Ibu Intan semakin banyak
mengeluarkan cairan pelumas yang hangat. Suara becek yang
diakibatkan oleh sodokan kontolku dan beceknya lubang vagina Ibu
Intan semakin keras.
“Aaahh.. sshh.. aahh.. oohh.. yess..” desahku.
“Faster.. oohh.. aahh.. ssh.. faster.. Do..”, desah Ibu Intan sambil
memintaku untuk mempercepat sodokan penisku.
Sementara penisku “bermain” di dalam lubang vaginanya Ibu Intan,
lidahku juga mulai memainkan putingnya. Itu membuat tubuh Ibu Intan
semakin bergerak tak karuan, goyangan pinggulnya semakin ganas dan
sesekali dia menggigit leherku untuk menahan kenikmatan yang dia
rasakan.

Semakin lama semakin kupercepat sodokan penisku dan gelitikan
lidahku di putingnya semakin kupercepat pula, semakin ganas juga Ibu
Intan bergoyang.
“Aahh..!”, Ibu Intan melenguh panjang sambil memelukku sangat erat
sekali, tubuhnya menegang hebat, matanya terpejam dan kurasakan ada
cairan hangat kental mengguyur penisku. Ibu Intan mengalami orgasme.
Aku semakin mempercepat sodokanku. Tubuh Ibu Intan mulai melemas
tapi aku terus mempercepat sodokanku.
“Ahh.. Ibu Intan.. aku mo keluarr.. sshh.. ahh”, ada sesuatu di
dalam penisku yang mulai bergerak dan geli bercampur enak yang
kurasakan mulai meningkat.
“Do.. keluarin di luar ya.. di mulutku..”, pinta Ibu Intan.
Aku mencabut penisku dan dengan rakusnya Ibu Intan segera menghisap
kontolku dengan ganas.
“Aahh..”, tubuhku mengejang, mataku terpejam dan tubuhku seperti
melayang menembus atmosfer bumi. Rasanya sangat nikmat sekali, sulit
dilukiskan dengan kata-kata. Aku memuncratkan air maniku di dalam
mulut Ibu Intan.

Ibu Intan terus menghisap penisku dengan ganas.
“Aahh.. sshh”, aku mendesah kecil ketika penisku yang mulai loyo
terus dijilati oleh Ibu Intan.
Lidah Ibu Intan terus menjilatinya sampai bersih. Lalu kami
sama-sama terbaring lemas di atas meja makan. Kami masih berpelukan.

“Nikmat sekali hari ini.. thanks ya Do..”, Ibu Intan berkata
kepadaku sambil menatapku.
“Sama-sama.. aku seharusnya yang berterima kasih..”, kataku sambil
membelai rambut Ibu Intan.
Kami lalu berciuman lalu berpelukan. Karena kecapean, kami pun
langsung tertidur di atas meja makan tempat kami bermain kenikmatan.

Aku terbangun ketika cahaya sudah terang. Aku melihat jam dinding,
wah.. ternyata pukul setengah tujuh pagi. Kulihat Ibu Intan masih
tertidur di pelukanku di atas meja makan yang berantakan tanpa
sehelai benang pun menempel di tubuh kami.
“Bu.. bangun..”, bisikku di telinga Ibu Intan.
Wajahnya terlihat begitu cantik ketika tertidur.
“Jam berapa sekarang Do?”
“Setengah tujuh”.
“Hah.. setengah tujuh?!”, Ibu Intan kaget dan segera bangun.
Kami segera berpakaian dan membereskan meja yang berantakan. Kami
takut kepergok oleh Bi Ana. Ibu Intan kemudian masuk kamarnya dan
mandi di kamar mandi yang ada didalam kamarnya, aku pun segera mandi
di kamar mandi lain yang letaknya dekat dengan kamarku. Sekitar jam
tujuh Bi Ana datang dan mulai dengan aktifitas sehari-harinya.
Untunglah aku dan Ibu Intan tidak bangun terlambat sehingga
perbuatan kami semalam tidak diketahui oleh Bi Ana.

*****

Setiap ada kesempatan dan kalau nggak ada orang di rumah, aku dan
Ibu Intan sering melakukan ML, kadang di kamarnya, di kamarku, di
kamar mandi, ruang tamu dan di dapur juga pernah. Tiga bulan
kemudian tepatnya bulan juni, Ibu Intan dan anaknya menyusul
suaminya di Jepang. Dan aku pun pindah kos karena rumah Ibu Intan
diisi oleh adik suaminya. Suami Ibu Intan akhirnya mendapatkan kerja
di Jepang di tempat ia kuliah, oleh karena itu sampai saat ini Ibu
Intan, anaknya serta suaminya menetap di Jepang.

Aku tak akan pernah melupakan pengalamanku ini seumur hidupku.
Terima kasih Ibu Intan, Ibu kost-ku sekaligus guru seksku.

Published March 4th, 2008

(Lensa indo) SPG Baleno

Cerita 17tahun,3gp dan foto bugil terbaru hanya ada di www.17tahun.us

Image Hosted by UploadHouse.comImage Hosted by UploadHouse.comImage Hosted by UploadHouse.comImage Hosted by UploadHouse.comImage Hosted by UploadHouse.comImage Hosted by UploadHouse.com

Published March 2nd, 2008

Cewek Sexy Asian part 4

Berikut koleksi terbaru cewek cewek seksi asia dari jepang. Namanya Nana…

Galeri lengkap anda bisa lihat di sini!.
cewek bugil cewek bugil cewek bugil cewek bugil cewek bugil cewek bugil cewek bugil

Koleksi Cewek Sexy Asian yang lain ada disini, disini, dan disini

Koleksi film dewasa dan video bugil ada www.filmbebas.com.

Published February 29th, 2008

(3GP) Yummmyy….

Cerita 17 tahun,3gp porno dan foto bugil terbaru hanya ada di www.17tahun.us

http://rapidshare.com/files/95802647/yumyum.3gp